Pengiriman barang menggunakan drone mulai menarik perhatian industri logistik karena menawarkan alternatif transportasi untuk wilayah yang sulit dijangkau kendaraan darat. Teknologi ini berpotensi membantu pengiriman obat-obatan, sampel laboratorium, dokumen penting, dan kebutuhan darurat ke daerah terpencil.

Namun, ada satu kendala besar dalam mengoperasikan drone untuk pengiriman jarak jauh: bagaimana memastikan pesawat tetap dapat dikendalikan dan dipantau ketika sudah berada di luar jangkauan penglihatan pilot?

Jawabannya berkaitan dengan teknologi BVLOS (Beyond Visual Line of Sight), yaitu metode pengoperasian drone ketika pilot tidak lagi dapat mempertahankan kontak visual langsung dengan pesawat.

Agar operasi semacam ini dapat dilakukan dengan aman, drone membutuhkan kombinasi teknologi komunikasi, navigasi, pemantauan posisi, dan sistem pendeteksi bahaya. Salah satu teknologi yang sedang diteliti untuk mendukung kebutuhan tersebut adalah jaringan telekomunikasi seluler 4G LTE dan 5G.

Perkembangan ini semakin relevan setelah Departemen Transportasi Amerika Serikat (USDOT) mengembangkan Mobile Network Aviation Assessment Program (MNAAP), sebuah program untuk menguji kemampuan jaringan seluler komersial dalam mendukung kebutuhan keselamatan penerbangan.

Lantas, bagaimana cara kerja drone BVLOS, apa peran jaringan 5G, dan bagaimana peluang penerapannya untuk industri logistik Indonesia?

Apa Itu Drone BVLOS?

Apa Itu Drone BVLOS

BVLOS merupakan singkatan dari Beyond Visual Line of Sight. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan metode penerbangan drone ketika pilot atau pengamat tidak dapat lagi melihat pesawat secara langsung selama pengoperasian.

Metode ini berbeda dengan VLOS (Visual Line of Sight), yaitu pengoperasian drone yang mengharuskan pilot mempertahankan kontak visual langsung dengan pesawat.

Dalam penerbangan VLOS, pilot dapat mengamati posisi drone dan lingkungan sekitarnya secara langsung. Sementara itu, BVLOS membutuhkan dukungan teknologi untuk memantau kondisi penerbangan dan menjaga komunikasi antara pesawat dengan sistem kendali di darat.

Perbedaan tersebut membuka peluang pengoperasian drone untuk jarak yang lebih jauh.

Sebagai contoh, drone pengiriman yang berangkat dari pusat distribusi dapat dirancang untuk mengangkut barang menuju fasilitas kesehatan di wilayah terpencil. Pilot tidak harus mengikuti perjalanan pesawat secara visual, tetapi tetap bertanggung jawab terhadap operasi melalui sistem pemantauan dan prosedur keselamatan yang telah disetujui.

Penting dipahami bahwa BVLOS bukan berarti drone dapat terbang tanpa pengawasan. Operasi tetap memerlukan perencanaan rute, pemantauan kondisi penerbangan, sistem komunikasi yang memadai, dan mekanisme penanganan keadaan darurat.

Mengapa Jaringan 4G dan 5G Dibutuhkan untuk Drone BVLOS?

Salah satu tantangan penerbangan drone jarak jauh adalah menjaga hubungan komunikasi antara pesawat dan operator di darat.

Pada jarak dekat, komunikasi dapat menggunakan koneksi radio khusus yang sesuai dengan karakteristik perangkat dan lingkungan penerbangan. Namun, ketika jarak operasi semakin jauh, kebutuhan terhadap infrastruktur komunikasi yang lebih luas ikut meningkat.

Di sinilah jaringan seluler berpotensi memberikan dukungan.

Jaringan 4G LTE dan 5G memiliki infrastruktur menara telekomunikasi yang tersebar di berbagai wilayah. Jika cakupan, kualitas sinyal, dan karakteristik jaringannya memenuhi persyaratan penerbangan, konektivitas tersebut dapat digunakan untuk mendukung komunikasi antara drone dan sistem di darat.

Beberapa fungsi yang sedang dieksplorasi meliputi:

1. Command and Control (C2)

Command and Control atau C2 merupakan sistem komunikasi yang menghubungkan drone dengan operator atau stasiun kendali di darat.

Melalui koneksi ini, operator dapat mengirimkan perintah penerbangan, menerima informasi kondisi pesawat, serta memantau status operasi.

Jaringan seluler berpotensi menjadi salah satu jalur komunikasi C2, khususnya untuk operasi yang membutuhkan jangkauan lebih luas.

Namun, komunikasi kendali penerbangan memiliki persyaratan keandalan dan latensi yang ketat. Koneksi internet yang sekadar cepat belum tentu memenuhi kebutuhan tersebut.

Sistem juga harus memiliki mekanisme cadangan apabila koneksi utama terputus, misalnya prosedur kembali ke titik asal, menuju lokasi pendaratan alternatif, atau menjalankan tindakan darurat yang telah diprogram sebelumnya.

2. Remote Identification dan Pemantauan Posisi

Remote Identification atau Remote ID merupakan sistem yang membantu mengidentifikasi pesawat tanpa awak dan menyediakan informasi tertentu mengenai operasinya.

Informasi yang relevan dapat mencakup identitas pesawat, posisi, ketinggian, dan lokasi pengendali, bergantung pada standar serta implementasi sistem yang digunakan.

Dalam konteks jaringan seluler, konektivitas dapat membantu mengirimkan informasi penerbangan ke sistem pemantauan berbasis jaringan.

Perlu dibedakan bahwa Remote ID bukan sekadar GPS. GPS atau GNSS membantu menentukan posisi pesawat, sedangkan Remote ID berkaitan dengan identifikasi dan penyampaian informasi pesawat kepada pihak yang membutuhkan.

Selain itu, Remote ID berbasis siaran langsung dan pelaporan melalui jaringan bukan mekanisme yang selalu identik. Keduanya memiliki standar dan kebutuhan implementasi tersendiri.

3. Detect and Avoid (DAA)

Salah satu persyaratan paling penting dalam penerbangan BVLOS adalah kemampuan mendeteksi dan menghindari potensi bahaya.

Teknologi ini dikenal sebagai Detect and Avoid atau DAA.

Sistem DAA membantu drone mengenali potensi konflik penerbangan, halangan, maupun kondisi berbahaya yang dapat mengganggu keselamatan operasi.

Implementasinya dapat melibatkan kombinasi sensor, kamera, radar, pemrosesan data, dan informasi dari sistem pemantauan lalu lintas udara.

Jaringan seluler dapat mendukung pertukaran informasi antara sistem-sistem tersebut. Namun, jaringan 4G atau 5G bukan pengganti sensor pendeteksi maupun sistem penghindaran tabrakan.

Jika koneksi seluler mengalami gangguan, drone tetap harus memiliki kemampuan dan prosedur keselamatan yang memungkinkan operasi dihentikan atau dilanjutkan ke kondisi aman.

Mengenal MNAAP: Program Amerika Serikat untuk Menguji Jaringan Seluler pada Penerbangan

Perkembangan konektivitas seluler untuk penerbangan drone memperoleh perhatian melalui program Mobile Network Aviation Assessment Program (MNAAP) yang dikembangkan USDOT.

Program ini bertujuan mengukur apakah jaringan komunikasi komersial dapat mendukung kebutuhan keselamatan penerbangan, termasuk untuk pesawat berawak dan sistem pesawat tanpa awak.

Pada 11 September 2026, Federal Communications Commission (FCC) menerbitkan keputusan DA 26-972 yang memberikan keringanan sementara terhadap sejumlah pembatasan penggunaan spektrum untuk mendukung kegiatan pengujian MNAAP.

Keputusan tersebut penting karena penggunaan perangkat seluler pada pesawat memiliki persoalan regulasi spektrum tersendiri. Tidak semua pita frekuensi komersial dapat digunakan secara bebas untuk komunikasi udara.

Dalam dokumen FCC, MNAAP dijelaskan sebagai program pengujian dan pembuktian konsep (proof of concept) untuk mengevaluasi beberapa teknologi komunikasi, yaitu:

  • Jaringan nirkabel komersial.
  • Layanan komunikasi satelit langsung ke perangkat (satellite direct-to-device).
  • Teknologi komunikasi ant perangkat atau sidelink.

Teknologi tersebut dievaluasi untuk mendukung kebutuhan seperti identifikasi elektronik pesawat, Remote ID, komunikasi kendali drone, serta aplikasi pendeteksian dan penghindaran otomatis.

Bagaimana Pengujian MNAAP Dilakukan?

Program tersebut menggunakan dua perangkat utama.

Pertama, MNAAP App yang dapat digunakan pilot penerbangan umum melalui smartphone dan perangkat komunikasi komersial. Aplikasi ini mengumpulkan informasi kualitas layanan jaringan pada berbagai lokasi dan kondisi penerbangan.

Kedua, MNAAP Module yang dipasang pada pesawat tanpa awak untuk melakukan pengukuran jaringan secara lebih terarah.

Berdasarkan dokumen FCC, program tersebut dirancang untuk mendukung penggunaan aplikasi oleh hingga 2.000 pilot penerbangan umum secara bersamaan dan pemasangan modul pada hingga 200 drone dalam satu waktu.

Data hasil pengujian dikirimkan ke basis data terpusat yang dikelola USDOT.

Pengujian dijadwalkan berlangsung hingga 30 September 2029.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah MNAAP masih merupakan program evaluasi. Keberadaannya belum membuktikan bahwa jaringan 4G atau 5G komersial sudah dapat menggantikan seluruh sistem komunikasi dan keselamatan penerbangan drone.

Justru, hasil pengujian inilah yang nantinya dapat membantu menentukan kemampuan dan batasan jaringan seluler untuk mendukung operasi penerbangan.

Perbedaan Jaringan 4G LTE dan 5G untuk Drone Delivery

Jaringan 4G LTE dan 5G memiliki karakteristik yang berbeda. Keduanya berpotensi mendukung komunikasi drone, tetapi penerapannya bergantung pada kebutuhan operasional.

Aspek4G LTE5G
InfrastrukturSudah tersebar luas di banyak wilayahTerus berkembang dan belum merata
LatensiMemadai untuk banyak kebutuhan komunikasi, bergantung kondisi jaringanBerpotensi lebih rendah pada konfigurasi tertentu
KapasitasMendukung komunikasi data dan pemantauanMenawarkan kapasitas lebih tinggi
KetersediaanRelatif lebih matangBergantung cakupan dan implementasi
Potensi penggunaanTelemetri, pemantauan, dan komunikasi kendaliKomunikasi berkapasitas tinggi dan aplikasi berlatensi rendah

Keunggulan 5G bukan berarti semua operasi drone harus menggunakan jaringan generasi terbaru.

Untuk pengiriman barang di wilayah yang belum memiliki infrastruktur 5G, jaringan 4G yang memiliki kualitas dan cakupan memadai bisa lebih relevan.

Sebaliknya, 5G berpotensi memberikan keuntungan pada operasi yang membutuhkan pertukaran data dalam jumlah besar atau komunikasi dengan persyaratan latensi tertentu.

Ada pula tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan generasi jaringan.

Kualitas koneksi di udara dapat berbeda dari kualitas jaringan di permukaan tanah. Pergerakan drone, ketinggian, arah antena, interferensi, kepadatan pengguna, serta perpindahan koneksi antarmenara dapat memengaruhi kestabilan komunikasi.

Karena itu, pengujian jaringan harus dilakukan dalam kondisi penerbangan yang sesungguhnya, bukan hanya berdasarkan hasil pengukuran sinyal di darat.

Bagaimana Drone BVLOS Dapat Mengubah Sistem Logistik?

Penerapan BVLOS berpotensi mengubah cara perusahaan mendistribusikan barang, terutama untuk kebutuhan pengiriman yang memiliki keterbatasan akses transportasi darat.

Berikut beberapa skenario penerapannya.

1. Pengiriman Logistik ke Wilayah 3T

Wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal sering menghadapi tantangan geografis. Jarak yang jauh, keterbatasan jalan, dan kondisi alam dapat memperlambat distribusi kebutuhan pokok maupun barang penting.

Drone kargo BVLOS berpotensi menjadi alternatif untuk mengirim barang ringan dan bernilai kebutuhan tinggi ke titik distribusi tertentu.

Contohnya adalah pengiriman obat-obatan, perlengkapan medis, atau sampel laboratorium menuju fasilitas kesehatan yang sulit dijangkau kendaraan darat.

Namun, pemanfaatannya perlu mempertimbangkan kapasitas angkut, jarak tempuh, cuaca, ketersediaan lokasi pendaratan, dan biaya operasional.

2. Distribusi Antarpulau

Indonesia memiliki karakteristik geografis berupa ribuan pulau dengan kondisi infrastruktur yang berbeda-beda.

Dalam situasi tertentu, pengiriman barang berukuran kecil melalui drone dapat menjadi alternatif untuk menghubungkan dua titik distribusi yang terpisah oleh perairan.

Misalnya, drone dapat digunakan untuk mendukung pengiriman kebutuhan medis antarfasilitas kesehatan di pulau-pulau kecil.

Namun, pengiriman antarpulau tidak selalu dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan jaringan seluler. Ketersediaan konektivitas sepanjang jalur penerbangan, kemampuan pesawat menghadapi angin dan cuaca laut, serta prosedur keselamatan di atas perairan harus menjadi pertimbangan.

Untuk rute yang sangat panjang, kombinasi transportasi laut atau darat dengan drone pada segmen tertentu mungkin lebih realistis dibandingkan menggunakan drone dari titik asal hingga tujuan akhir.

3. Pengiriman Logistik dalam Kondisi Darurat

Drone dapat membantu mengirimkan barang penting ke lokasi bencana ketika akses jalan terputus atau kondisi wilayah belum memungkinkan kendaraan masuk.

Barang yang dapat diprioritaskan antara lain obat-obatan, alat kesehatan ringan, alat komunikasi, dan kebutuhan darurat lainnya sesuai kapasitas pesawat.

Keunggulan potensialnya adalah kemampuan menjangkau lokasi tertentu tanpa harus menunggu akses transportasi darat pulih.

Dalam skenario ini, konektivitas yang andal membantu operator memantau posisi pesawat dan kondisi penerbangan. Namun, sistem harus tetap mempunyai prosedur keselamatan apabila jaringan mengalami gangguan akibat kerusakan infrastruktur atau kondisi bencana.

4. Distribusi Antarfasilitas Kesehatan dan Laboratorium

Pengiriman sampel biologis, obat tertentu, dan perlengkapan medis dapat membutuhkan waktu distribusi yang relatif singkat.

Drone BVLOS berpotensi menghubungkan rumah sakit, laboratorium, dan pusat distribusi kesehatan melalui jalur penerbangan yang direncanakan.

Agar dapat diterapkan, operator perlu memastikan kemasan, kondisi penyimpanan, keamanan barang, dan prosedur serah terima memenuhi persyaratan yang berlaku.

Penggunaan drone juga harus dievaluasi berdasarkan biaya total, bukan hanya kecepatan terbang. Pengelolaan stasiun pengisian, pemeliharaan, operator, dan infrastruktur pendukung tetap memerlukan investasi.

Bagaimana Regulasi Penerbangan Drone BVLOS di Indonesia?

Pengembangan drone kargo tidak hanya bergantung pada kesiapan perangkat dan jaringan komunikasi. Operator juga harus mengikuti ketentuan keselamatan penerbangan yang berlaku di Indonesia.

Salah satu regulasi penting adalah Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 37 Tahun 2020 tentang Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak di Ruang Udara yang Dilayani Indonesia.

Peraturan tersebut menjelaskan bahwa BVLOS merupakan metode pengoperasian pesawat tanpa awak ketika pilot atau pengamat tidak dapat mempertahankan kontak visual langsung dengan pesawat.

Regulasi tersebut juga menetapkan sejumlah persyaratan yang relevan untuk operasi BVLOS.

Persyaratan Detect and Avoid

Pesawat tanpa awak yang dioperasikan secara BVLOS harus memiliki kemampuan Detect and Avoid (DAA).

Kemampuan ini digunakan untuk memastikan operasi tidak mengganggu penerbangan lain serta membantu mendeteksi kondisi meteorologi berbahaya dan rintangan.

Sistem Pelacakan Pesawat

Drone juga harus memiliki kemampuan tracking system agar pengoperasiannya dapat dipantau.

Sistem ini penting untuk mengetahui posisi dan kondisi penerbangan, terutama ketika pesawat berada jauh dari lokasi pilot.

Ketentuan Jalur Penerbangan

Untuk operasi di kawasan permukiman, regulasi mencakup aspek keselamatan terhadap manusia dan properti, ketersediaan lokasi pendaratan darurat, prosedur penghentian operasi, serta jalur penerbangan yang telah ditentukan dan disetujui Direktur Jenderal Perhubungan Udara.

Pengangkutan Kargo dan Operasi Komersial

Pengoperasian drone untuk pengangkutan barang muatan dan kegiatan komersial harus memenuhi standar keselamatan dan keamanan penerbangan yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

Muatan juga harus sesuai dengan performa dan fungsi pesawat.

Dengan demikian, penggunaan jaringan 4G atau 5G tidak otomatis memberikan izin kepada perusahaan untuk menjalankan layanan drone delivery secara komersial.

Operator tetap harus memenuhi persyaratan teknis, administratif, dan keselamatan sesuai jenis serta karakteristik operasi yang diajukan.

Tantangan Pengembangan Drone BVLOS di Indonesia

Walaupun memiliki potensi, penerapan drone BVLOS untuk logistik masih menghadapi beberapa tantangan.

1. Cakupan Jaringan Belum Merata

Jaringan seluler di Indonesia belum memiliki kualitas yang seragam di seluruh wilayah. Daerah pegunungan, pulau kecil, kawasan hutan, dan wilayah perbatasan dapat memiliki keterbatasan konektivitas.

Kondisi ini menjadi tantangan karena drone yang terbang di luar jangkauan visual membutuhkan sistem komunikasi yang dapat diandalkan.

Solusinya bukan sekadar mencari operator dengan sinyal paling kuat. Perencanaan perlu mencakup pemetaan cakupan sepanjang jalur penerbangan, pengujian konektivitas pada ketinggian operasional, dan penyediaan jalur komunikasi alternatif jika diperlukan.

2. Sistem Keselamatan Tidak Boleh Bergantung pada Satu Koneksi

Koneksi seluler dapat mengalami gangguan akibat perpindahan antarmenara, cuaca, kepadatan jaringan, atau kerusakan infrastruktur.

Karena itu, sistem drone BVLOS harus dirancang dengan prosedur kontingensi.

Misalnya, ketika komunikasi utama terputus, drone dapat menjalankan tindakan yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan kondisi penerbangan dan tingkat risiko.

3. Investasi Infrastruktur dan Operasional

Penggunaan drone kargo membutuhkan lebih dari sekadar pembelian pesawat.

Perusahaan perlu memperhitungkan sistem kendali, perangkat komunikasi, perangkat keselamatan, lokasi lepas landas dan pendaratan, pemeliharaan, pelatihan pilot, serta pengelolaan operasi.

Jika jaringan seluler belum memadai, operator juga mungkin memerlukan infrastruktur komunikasi tambahan.

4. Kondisi Geografis dan Cuaca

Angin kencang, hujan, turbulensi, dan kondisi atmosfer dapat memengaruhi keselamatan penerbangan.

Untuk Indonesia yang memiliki kondisi geografis beragam, pemilihan rute harus mempertimbangkan karakteristik wilayah dan kondisi cuaca secara berkala.

Jalur penerbangan yang terlihat pendek di peta belum tentu menjadi jalur yang paling aman atau efisien.

Apa Artinya bagi Masa Depan Industri Logistik Indonesia?

Perkembangan BVLOS dan konektivitas seluler membuka peluang baru bagi perusahaan logistik, operator drone, penyedia jaringan telekomunikasi, dan pengelola infrastruktur distribusi.

Namun, manfaat terbesar kemungkinan tidak langsung terlihat dalam bentuk penggantian seluruh armada transportasi darat.

Pada tahap awal, drone lebih realistis digunakan untuk kebutuhan tertentu yang memiliki karakteristik jelas: barang ringan, kebutuhan mendesak, wilayah yang sulit diakses, atau jalur distribusi dengan hambatan transportasi yang tinggi.

Perusahaan logistik dapat mulai mengevaluasi beberapa hal, seperti:

  • Jenis barang yang layak dikirim menggunakan drone.
  • Rute yang memiliki kebutuhan distribusi khusus.
  • Ketersediaan jaringan komunikasi sepanjang jalur penerbangan.
  • Kebutuhan fasilitas pengiriman dan penerimaan barang.
  • Persyaratan keselamatan serta perizinan operasi.
  • Perbandingan biaya drone dengan moda transportasi yang sudah tersedia.

Integrasi drone dengan sistem manajemen logistik juga menjadi penting. Informasi pengiriman, identitas barang, lokasi penerbangan, dan status serah terima perlu terhubung dengan proses distribusi yang dikelola perusahaan.

Dengan demikian, drone tidak berdiri sebagai teknologi terpisah, tetapi menjadi salah satu bagian dari jaringan transportasi multimoda.

Kesimpulan

Teknologi BVLOS memungkinkan drone beroperasi di luar jangkauan penglihatan langsung pilot dan membuka peluang pengiriman barang melalui jalur udara yang lebih fleksibel.

Jaringan 4G LTE dan 5G berpotensi mendukung perkembangan tersebut melalui komunikasi kendali, pertukaran data, identifikasi pesawat, dan pemantauan penerbangan. Namun, jaringan seluler bukan pengganti sistem navigasi, sensor keselamatan, maupun kemampuan Detect and Avoid.

Program MNAAP yang dikembangkan USDOT memperlihatkan bahwa kemampuan jaringan komersial untuk mendukung kebutuhan keselamatan penerbangan masih perlu diuji secara sistematis.

Bagi Indonesia, peluang penerapan drone BVLOS cukup relevan untuk distribusi barang ke wilayah 3T, antarpulau, fasilitas kesehatan, dan lokasi yang sulit dijangkau transportasi konvensional.

Meski demikian, keberhasilan implementasinya bergantung pada kombinasi infrastruktur komunikasi, kesiapan teknologi pesawat, kepatuhan regulasi, dan kelayakan ekonomi.

Pada akhirnya, masa depan drone delivery bukan hanya ditentukan oleh seberapa jauh drone dapat terbang, tetapi juga seberapa aman, konsisten, dan ekonomis teknologi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam sistem logistik.

Referensi

  1. Coverdrone. (27 Oktober 2026). The Flight Log – October 2026.
    Membahas perkembangan industri drone, termasuk pengiriman menggunakan drone dan operasi BVLOS.
    https://www.coverdrone.com/flight-log-drone-newsletter-10-27/
  2. Federal Communications Commission (FCC). (11 September 2026). Waiver of Aeronautical Mobile Restrictions to Enable Mobile Network Aviation Assessment Program (MNAAP), DA 26-972.
    Dokumen utama mengenai MNAAP, program pengujian jaringan nirkabel komersial untuk mendukung layanan keselamatan penerbangan, termasuk komunikasi kendali, identifikasi drone, serta deteksi dan penghindaran objek.
    https://docs.fcc.gov/public/attachments/DA-26-972A1.pdf
  3. U.S. Department of Transportation (USDOT). Electronic Conspicuity: Exploring the Use of Advanced Radiofrequency Technologies to Enable Unmanned Aircraft Systems Integration.
    Makalah teknis mengenai pemanfaatan teknologi radiofrekuensi untuk mendukung integrasi pesawat tanpa awak ke ruang udara.
    https://www.transportation.gov/sites/dot.gov/files/2025-01/Electronic-Conspicuity_White-Paper_011625.pdf
  4. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 37 Tahun 2020 tentang Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak di Ruang Udara yang Dilayani Indonesia.
    Acuan regulasi nasional terkait pengoperasian drone di ruang udara Indonesia.
  5. Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan. (16 Juni 2022). Operasi Drone dalam Pendistribusian Logistik ke Wilayah Terpencil, Terluar, Tertinggal (3T) dan Wilayah Rawan Bencana.
    Membahas potensi drone kargo untuk distribusi logistik di wilayah 3T dan daerah rawan bencana, termasuk tantangan komunikasi dan operasi BVLOS.
    https://baketrans.kemenhub.go.id/berita/operasi-drone-dalam-pendistribusian-logistik-ke-wilayah-terpencil-terluar-tertinggal-3t-dan-wilayah-rawan-bencana

Catatan akurasi: MNAAP merupakan program pengujian, bukan standar operasional BVLOS yang sudah ditetapkan. Jaringan 5G juga bukan persyaratan mutlak untuk semua penerbangan BVLOS. PM 37/2020 digunakan sebagai acuan regulasi pengoperasian drone di Indonesia, bukan sebagai dasar klaim teknis mengenai jaringan 5G.

Disclaimer: Artikel ini disusun sebagai materi informasi dengan mengacu pada referensi publik, data umum industri, dan pengolahan informasi berbasis teknologi. Informasi yang disajikan bertujuan untuk memberikan gambaran umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan layanan, penawaran resmi, maupun perjanjian yang mengikat. Ketentuan layanan dan informasi resmi hanya berlaku sebagaimana tercantum pada kebijakan Kargoku.id. Informasi lebih lanjut dapat dibaca di Privacy Policy Kargoku.id.
Diterbitkan di Kargoku.id